ASEAN Economic Community 2015?
Take the Chances and Be Ready!
Ariel Menachem H
(2011-22-149)
Indonesia akan menghadapi era tantangan baru dalam perkembangan
kerjasama ekonomi di kawasan Asia Tenggara yaitu ASEAN Economic Community.
Implementasi ASEAN Economic Community yang direncanakan dilaksanakan pada tahun
2020 dimajukan menjadi tahun 2015. Dengan diberlakukannya ASEAN Economic
Community yang disepakati bersama oleh semua negara di wilayah Asia Tenggara
maka secara otomatis Liberalisasi ekonomi akan terjadi hampir di semua
sektor-sektor potensial dalam hubungan diplomatis Negara-negara di kawasan Asia
Tenggara ini. Ketika ASEAN Economic Community berlaku pada awal 2015
pasar-pasar strategis di Negara-negara ini, termasuk di Indonesia akan membuka
diri pada pasar yang lebih luas yang pastinya memberi kesempatan bagi setiap
Negara untuk memperbesar kapasitas ekonomi mereka. Pasar Indonesia, tentu saja akan
sangat menarik bagi Negara-negara tetangga karena seperti yang kita yakini
bersama bahwa Indonesia menyimpan banyak sekali potensi ekonomi yang luar biasa
dan perlu jadi perhatian bagi kita semua bahwa kita hanya akan menjadi penonton
bila kita tidak mempersiapkan diri dari sekarang untuk menyambut era baru dalam
hubungan strategis yang lebih besar.
Konsep utama
dari ASEAN Economic Community adalah menciptakan ASEAN sebagai sebuah pasar
tunggal dan kesatuan basis produksi dimana terjadi free flow atas barang, jasa,
faktor produksi, investasi dan modal serta penghapusan tarif bagi perdagangan
antar negara ASEAN yang kemudian diharapkan dapat mengurangi kemiskinan dan
kesenjangan ekonomi diantara negara-negara anggotanya melalui sejumlah
kerjasama yang saling menguntungkan. Kehadiran ASEAN Economic Community bisa
membantu ketidakberdayaan negara-negara ASEAN dalam persaingan global ekonomi
dunia yaitu dengan membentuk pasar tunggal yang berbasis di kawasan Asia
Tenggara. Liberalisasi di bidang jasa yang menyangkut sumber daya manusia
mungkin akan tampak terlihat jelas karena menyangkut tentang penempatan tenaga
terampil dan tenaga tidak terampil dalam mendukung perekonomian negara. Namun,
yang paling banyak berpengaruh dan sangat ditekan dalam ASEAN Economic
Community adalah tenaga kerja terampil. Sehingga kita harus benar-benar
mempersiapkan diri dengan tidak hanya mengandalkan ketrampilan yang ada namun
tanpa berhenti terus menambah added value
dalam diri kita menghadapi persaingan ekonomi yang akan kita jelang di tahun
2015 nanti.
Kompetisi yang
dihadapi Indonesia kedepan akan jauh lebih besar dalam menghadapi era ASEAN
Economic Community. Ada beberapa tantangan diantarnya: pertama,
mengaitkan mobilitas tenaga kerja terampil dan tidak terampil. Indonesia memang
merupakan salah satu pengeksor tenaga kerja terbesar ke luar negeri, akan
tetapi semua justru kebanyakan berasal dari tenaga kerja tidak terampil. Namun,
dalam konteks ASEAN Economic Community ini belum mengarah pada penempatan
tenaga kerja tidak terampil tetapi lebih memfokuskan pada tenaga terampil
sehingga akan menunjang kerjasama antar bangsa. Kedua, isu inflow dan
outflow tenaga terampil di Indonesia. Isu inflow tidak
signifikan karena Indonesia masih didominasi sektor pertanian dan perdagangan.
Isu outflow juga tidak terlalu penting karena sedikitnya jumlah tenaga
profesional dan kurangnya penguasaan bahasa Inggris. Fokus permasalahan tenaga
kerja di Indonesia lebih banyak kepada penanganan kasus buruh daripada
peningkatan daya saing tenaga terampil.Ketiga, menyikapi regulasi
domestik negara-negara ASEAN sehingga membutuhkan koordinasi yang lebih lanjut
karena semua terkait dengan politik negara tujuan. Keempat, kualitas
tenaga terampil di Indonesia. Menurut Laporan Bank Dunia, terjadi kesenjangan
besar dalam kualitas tenaga terampil di Indonesia. Disebutkan kesenjangan
terbesar adalah penggunaan bahasa Inggris (44%), penggunaan komputer (36%),
ketrampilan perilaku (30%), ketrampilan berpikir kritis (33%) dan ketrampilan
dasar (30%). Hal yang lebih mengenaskan lagi adalah ketimpangan jumlah pekerja
di Indonesia dimana hanya 7% saja yang mengenyam pendidikan tinggi.
Indonesia sebagai salah
satu pilar ASEAN tentunya juga tidak ingin kehilangan momentum terbentuknya AEC
ini sebagai bentuk partisipasi aktifnya dalam perkonomian regional dan dunia.
Dalam pernyataannya Menteri Perdagangan Indonesia Marie Eka Pangestu menyatakan
bahwa Indonesia siap untuk melaksanakan AEC di tahun 2015 . Di dalam Regional
Asia Tenggara, Indonesia dipercaya bersama lima negara lain untuk sama-sama
menargetkan negaranya siap melaksanakan AEC, sedangkan 4 negara lain yang tergabung
dalam AEC baru bisa menargetkan negaranya mengimplementasikan single market AEC
baru pada tahun 2020. Hal tersebut diimplementasikan dengan disepakatinya
blueprint ASEAN Economic Community di tahun 2015. Blue print tersebut merupakan
wujud kesiapan dan langkah awal Indonesia dalam menyepakati terwujudnya single
market ASEAN. Dalam cetak biru tersebut, disepakati 12 sektor yang menjadi
prioritas yaitu sektor industri, penerbangan, peralatan kesehatan, produk kayu,
garmen, dan pariwisata
Selain itu, semua stake holder di negara kita juga harus bisa
menyukseskan kesepakatan di antara negara-negara ASEAN tersebut. Para pengusaha
dan seluruh stake holder yang lainnya seperti dari akademisi berkewajiban untuk
terlibat dan menyukseskan AEC tersebut, sehingga Indonesia tidak hanya
menyaksikan saja tetapi menjadi pemain utamanya. Selain stake holder dan para
pemangku kebijakan yang terlibat, masyarakat juga aktif terlibat dan mempunyai
jiwa optimis dalam menyambut AEC 2015 tersebut. Harapan yang besar pula kita letakkan
pada pemerintah agar segera menyadari petingnya hal ini dengan menjadikan isu
ASEAN Community 2015 ini sebagai persiapan pokok yang diarus utamakan ketimbang
isu-isu seputar politik praktis berikutnya.
Sumber :
3.http://search.worldbank.org/all?qterm=quality+of+skilled+manpower+in+Indonesia&op=
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking