Vrydag 25 April 2014

ASEAN Economic Community 2015?
Take the Chances and Be Ready!
Ariel Menachem H (2011-22-149)

Indonesia akan menghadapi era tantangan baru dalam perkembangan kerjasama ekonomi di kawasan Asia Tenggara yaitu ASEAN Economic Community. Implementasi ASEAN Economic Community yang direncanakan dilaksanakan pada tahun 2020 dimajukan menjadi tahun 2015. Dengan diberlakukannya ASEAN Economic Community yang disepakati bersama oleh semua negara di wilayah Asia Tenggara maka secara otomatis Liberalisasi ekonomi akan terjadi hampir di semua sektor-sektor potensial dalam hubungan diplomatis Negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini. Ketika ASEAN Economic Community berlaku pada awal 2015 pasar-pasar strategis di Negara-negara ini, termasuk di Indonesia akan membuka diri pada pasar yang lebih luas yang pastinya memberi kesempatan bagi setiap Negara untuk memperbesar kapasitas ekonomi mereka. Pasar Indonesia, tentu saja akan sangat menarik bagi Negara-negara tetangga karena seperti yang kita yakini bersama bahwa Indonesia menyimpan banyak sekali potensi ekonomi yang luar biasa dan perlu jadi perhatian bagi kita semua bahwa kita hanya akan menjadi penonton bila kita tidak mempersiapkan diri dari sekarang untuk menyambut era baru dalam hubungan strategis yang lebih besar.
Konsep utama dari ASEAN Economic Community adalah menciptakan ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal dan kesatuan basis produksi dimana terjadi free flow atas barang, jasa, faktor produksi, investasi dan modal serta penghapusan tarif bagi perdagangan antar negara ASEAN yang kemudian diharapkan dapat mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi diantara negara-negara anggotanya melalui sejumlah kerjasama yang saling menguntungkan. Kehadiran ASEAN Economic Community bisa membantu ketidakberdayaan negara-negara ASEAN dalam persaingan global ekonomi dunia yaitu dengan membentuk pasar tunggal yang berbasis di kawasan Asia Tenggara. Liberalisasi di bidang jasa yang menyangkut sumber daya manusia mungkin akan tampak terlihat jelas karena menyangkut tentang penempatan tenaga terampil dan tenaga tidak terampil dalam mendukung perekonomian negara. Namun, yang paling banyak berpengaruh dan sangat ditekan dalam ASEAN Economic Community adalah tenaga kerja terampil. Sehingga kita harus benar-benar mempersiapkan diri dengan tidak hanya mengandalkan ketrampilan yang ada namun tanpa berhenti terus menambah added value dalam diri kita menghadapi persaingan ekonomi yang akan kita jelang di tahun 2015 nanti.

Kompetisi yang dihadapi Indonesia kedepan akan jauh lebih besar dalam menghadapi era ASEAN Economic Community. Ada beberapa tantangan diantarnya: pertama, mengaitkan mobilitas tenaga kerja terampil dan tidak terampil. Indonesia memang merupakan salah satu pengeksor tenaga kerja terbesar ke luar negeri, akan tetapi semua justru kebanyakan berasal dari tenaga kerja tidak terampil. Namun, dalam konteks ASEAN Economic Community ini belum mengarah pada penempatan tenaga kerja tidak terampil tetapi lebih memfokuskan pada tenaga terampil sehingga akan menunjang kerjasama antar bangsa. Kedua, isu inflow dan outflow tenaga terampil di Indonesia. Isu inflow tidak signifikan karena Indonesia masih didominasi sektor pertanian dan perdagangan. Isu outflow juga tidak terlalu penting karena sedikitnya jumlah tenaga profesional dan kurangnya penguasaan bahasa Inggris. Fokus permasalahan tenaga kerja di Indonesia lebih banyak kepada penanganan kasus buruh daripada peningkatan daya saing tenaga terampil.Ketiga, menyikapi regulasi domestik negara-negara ASEAN sehingga membutuhkan koordinasi yang lebih lanjut karena semua terkait dengan politik negara tujuan. Keempat, kualitas tenaga terampil di Indonesia. Menurut Laporan Bank Dunia, terjadi kesenjangan besar dalam kualitas tenaga terampil di Indonesia. Disebutkan kesenjangan terbesar adalah penggunaan bahasa Inggris (44%), penggunaan komputer (36%), ketrampilan perilaku (30%), ketrampilan berpikir kritis (33%) dan ketrampilan dasar (30%). Hal yang lebih mengenaskan lagi adalah ketimpangan jumlah pekerja di Indonesia dimana hanya 7% saja yang mengenyam pendidikan tinggi.


Indonesia sebagai salah satu pilar ASEAN tentunya juga tidak ingin kehilangan momentum terbentuknya AEC ini sebagai bentuk partisipasi aktifnya dalam perkonomian regional dan dunia. Dalam pernyataannya Menteri Perdagangan Indonesia Marie Eka Pangestu menyatakan bahwa Indonesia siap untuk melaksanakan AEC di tahun 2015 . Di dalam Regional Asia Tenggara, Indonesia dipercaya bersama lima negara lain untuk sama-sama menargetkan negaranya siap melaksanakan AEC, sedangkan 4 negara lain yang tergabung dalam AEC baru bisa menargetkan negaranya mengimplementasikan single market AEC baru pada tahun 2020. Hal tersebut diimplementasikan dengan disepakatinya blueprint ASEAN Economic Community di tahun 2015. Blue print tersebut merupakan wujud kesiapan dan langkah awal Indonesia dalam menyepakati terwujudnya single market ASEAN. Dalam cetak biru tersebut, disepakati 12 sektor yang menjadi prioritas yaitu sektor industri, penerbangan, peralatan kesehatan, produk kayu, garmen, dan pariwisata
Selain itu, semua stake holder di negara kita juga harus bisa menyukseskan kesepakatan di antara negara-negara ASEAN tersebut. Para pengusaha dan seluruh stake holder yang lainnya seperti dari akademisi berkewajiban untuk terlibat dan menyukseskan AEC tersebut, sehingga Indonesia tidak hanya menyaksikan saja tetapi menjadi pemain utamanya. Selain stake holder dan para pemangku kebijakan yang terlibat, masyarakat juga aktif terlibat dan mempunyai jiwa optimis dalam menyambut AEC 2015 tersebut. Harapan yang besar pula kita letakkan pada pemerintah agar segera menyadari petingnya hal ini dengan menjadikan isu ASEAN Community 2015 ini sebagai persiapan pokok yang diarus utamakan ketimbang isu-isu seputar politik praktis berikutnya.
Sumber :
3.http://search.worldbank.org/all?qterm=quality+of+skilled+manpower+in+Indonesia&op=